Twenty Something: Mimpi Yang Semakin Pudar

Dua puluh tahun bukan saat hidup memanjakanku dengan segala pesonanya tetapi saat hidup membuka mataku terhadap realita dunia yang dingin. Waktu bersenang-senang seakan lenyap ditelan tantangan hidup yang tiada habisnya bak ombak di tepi pantai.

“Orang tuamu bukan orang kaya, kamu harus membanting tulang berkerja demi kehidupanmu sendiri, aku sudah lelah”, Ujar ayahku saat dia bersantai di teras sore itu. Sejak itu, aku mencari cara mencukupi kebutuhanku sendiri lewat bisnis online kecil-kecilan yang kubangun dengan susah payah. Tahun demi tahun dapat kulewati dengan rasa syukur, namun rasa khawatir itu bagai air bah yang tak dapat kubendung. Lalu, satu pertanyaan muncul di benakku, “Apa mimpimu?.”

photo 1.JPG

Dua puluh dua tahun, aku bekerja di salah satu perusahaan besar di Indonesia. Awalnya, aku mengira karirku akan menyenangkan, namun ternyata semuanya itu hanya ilusi yang mewarnai pikiranku. Kenyataan pahit dan harapan palsu pun berkali-kali menyerangku. Senyum dan tawa bersama teman-temanku pun seakan hanya seperti sandiwara yang sedang aku perankan. Aku tidak menemukan gairah saat aku meniti karirku. Perjalanan pulang dari kantor menjadi sebuah saat dimana aku menikmati kesendirianku dan ratap tangis dalam hati terkadang tak terbendung. “Kalau ini bukan mimpimu, mengapa kamu menjalankan ini semua?” Aku bertanya kembali kepada diriku.

Dua puluh lima tahun datang begitu cepat. Sampai saat ini, sudah tiga tahun lamanya aku menjalani hidup yang tidak aku inginkan, aku merasa gagal. Perasaan itu bagaikan racun yang perlahan membunuh alasanku untuk mengejar mimpiku. Aku terkadang menjadi putus asa untuk menjalani hidup ini. Rasa kecewa terhadap diri sendiri membujukku untuk menyerah namun ternyata Tuhan memberikanku seorang sahabat yang hebat.

“Ayo kamu pasti bisa, pasti ada jalan, tetaplah bersabar, Semangat! aku akan selalu mendukungmu,” ujar sahabatku. Dukungan itu pun menjadi seperti air madu yang memberi rasa manis pada hati yang tawar ini. Jika bukan karena nasihat sahabatku yang sangat aku sayangi, mungkin aku sudah memilih mengakhiri hidupku yang tidak terarah dan membosankan ini. Aku kembali menanyakan pertanyaan lain kepada diriku, “Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”

human-and-sunset.jpg

Hidupku ternyata belum berubah sampai saat ini, aku berkerja tanpa adanya semangat yang berkobar. Senyum dan tawa seakan menjadi semakin asing. Baru kusadari yang kupupuk selama ini hanya rasa takut. Ia menjadi tumbuh subur dan perlahan melilitku sehingga aku tidak dapat bergerak bebas dalam hidup ini. Rasanya, semakin bertambah umurku, mimpiku semakin menjauh dari genggamanku. Aku takut mimpiku semakin memudar ditelan waktu dan akhirnya hilang ditelan rasa putus asa. Aku takut aku gagal menjadi seperti yang kuinginkan. Aku takut aku menjadi tua dan tidak ada yang dapat kulakukan lagi. Aku takut semuanya diambil dari padaku sebelum aku mendapatkannya. Rasanya hidupku hanya dipenuhi ketakutan.

“Siapkah kamu berjuang mengalahkan ketakutanmu dan menang?” aku bertanya kembali kepada diriku. Butuh berbulan-bulan untuk membangun kembali setitik harapan yang membuat aku akhirnya menjawab, “Ya, aku siap.”

Credit: 2.Bp.blogspot.com, mbtipopculture

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s