Twenty Something: Seorang Teman

Tahun itu merupakan tahun yang sangat kelam dalam hidupku. Aku duduk di bangku kuliah di salah satu universitas swasta. Aku tidak punya teman, aku selalu merasa terkucilkan dari semua teman kuliahku. Walaupun sebenarnya, mereka menerimaku sebagai teman mereka. Namun, perasaan ini tetap tidak dapat kulenyapkan dari benakku, aku…aku selalu bingung harus berkata apa.

Hai, namaku Nick. Kalau boleh dideskripsikan, aku seorang kutu buku berkacamata dengan gaya berpakaian cukup trendy. Aku bukan seorang yang percaya diri, bukan seorang pemberani, bukan seorang yang tampan, dan bukan seorang yang jenius. Aku menyadari ternyata aku bukan siapa-siapa dan aku pun tidak punya siapa-siapa.

Tanpa terasa, satu tahun berlalu begitu cepat. Aku masih sama seperti aku yang dulu. Tidak ada perubahan yang berarti dalam diriku. Suatu hari, dosen memberikan tugas kelompok. Seperti biasa, aku kesulitan mencari anggota kelompok. Aku kembali tenggelam di dalam kekhawatiran dan ketakutan. Tiba-tiba, ada seorang pria yang menghampiriku, “Hai, mau menjadi anggota kelompokku?” ujarnya. Pertanyaan itu rasanya seperti angin sejuk yang seketika membuatku sangat bahagia. Kalimat itulah yang menjadi permulaan kisah persahabatan kami.

Sahabatku bernama Hans. Dia bukan sosok manusia yang pernah terbayangkan olehku akan berperan besar dalam hidupku. Seorang pria rupawan dengan gaya berpakaiannya yang casual namun memiliki ciri khas. Dia hanya memakai baju t-shirt berwarna hitam dan jeans biru. Selain itu, dia juga seorang yang pemberani, cerdas, dan bisa bergaul dengan siapa saja. Oleh karena dia, aku merasa dihargai sebagai seorang manusia. Hatiku seketika berbisik padaku, “Ternyata di dunia ini, kamu tidak akan pernah seorang diri lagi, karena kamu punya sahabat.”

Seiring waktu berjalan, gelak tawa dan canda mewarnai hariku. Sejak itu, aku melangkahkan kakiku dengan semangat ke kampus karena aku tahu, aku tidak sendirian. Ada seorang sahabat yang akan menungguku. Tanpa terasa, dua tahun yang penuh kebahagiaan harus berakhir. Masa kuliahku sudah selesai dan aku menjadi jarang bertemu dengan sahabatku itu. Aku tetap berusaha menjaga komunikasi dengannya. Tanpa disadari suatu hari kami berada dalam satu perusahaan yang sama. Hubungan kami kembali terajut selama beberapa waktu. Namun, tahukah kamu apa yang terjadi? Dia berhenti berkerja dan pulang ke kampung halamannya di Pontianak untuk membantu orang tuanya. Di satu sisi, aku merasa senang dia dapat hidup dengan lebih nyaman dengan orang tuanya di sana, tetapi di sisi lain, aku kehilangan. Kehilangan sesosok orang yang selama ini berada di sampingku dan mendukungku.

Sampai saat ini, aku belum dapat menghubunginya. Dia menghilang seakan ditelan bumi. Kini, tidak ada kabar apapun darinya. Terasa ada sebagian dari hidupku yang direnggut begitu saja. Aku berjanji pada diriku, jika aku memiliki sahabat lagi di masa mendatang, aku tidak akan membiarkannya pergi begitu saja tanpa ada kabar. Aku tidak ingin bagian hidupku direnggut kembali oleh realita dunia yang kejam ini. Kesedihan terkadang merasuki hatiku dan meninggalkan bekas luka yang dalam. Kata orang, waktu dapat menyembuhkan bekas luka yang ada di dalam hati kita, namun sampai saat ini, aku masih menunggu. Menunggu untuk sembuh.

%22compassion-and-tolerance-are-not-a-sign-of-weakness-but-a-sign-of-strength-%22

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s