Twenty Something: Hampa

Hai, namaku Nick. Aku seorang kutu buku berkacamata dengan gaya berpakaian cukup trendy. Aku bukan seorang yang percaya diri, bukan seorang pemberani, bukan seorang yang tampan, dan bukan seorang yang jenius. Aku menyadari ternyata aku bukan siapa-siapa dan aku pun tidak punya siapa-siapa.

Kalau boleh dikatakan, hidupku sangat hampa. Rasa sepi ini terkadang bangun dari tidurnya dan mulai menggangguku dengan bisikan-bisikannya. Ia selalu meracuniku dengan kalimat-kalimat yang membuatku mempertanyakan kemana semua orang yang menyayangiku, kemana mereka saat kuperlukan?

Ada kalanya, rasa sepi melingkupi perasaanku di malam sunyi, saat aku berbaring sendirian di kamarku sambil mendengarkan lagu yang melantunkan nada sedih. Satu malam, ia berbisik kepadaku, “Hei, aku tau kamu sayang dengan Jessica, teman baikmu itu, tapi dimana dia? Aku rasa dia tidak pernah memikirkanmu, dia tidak pernah menghubungimu.” Perih tiba-tiba kurasakan di dalam hati ini dan ada suara yang membujukku untuk setuju dan menerima rasa sakit dan kecewa yang tidak kuundang. Karena malam itu aku sangat lelah, aku tertidur tanpa memikirkan lagi hal tersebut.

Keesokan harinya, hal itu kembali timbul di benakku dan kembali menghantuiku dari pagi hari. Ketika aku tahu hal itu tidak bisa kubiarkan menggantung begitu saja, aku memilih mengabaikannya dan menikmati hariku dengan tawa dan senyum. Pada malam hari itu, aku kembali dihadapkan dengan pertanyaan itu. Aku menguras kemampuan pikiranku untuk mencoba menyelesaikan hal itu, melihatnya dari berbagai sudut pandang, mengambil berbagai pertimbangan, bahkan menempatkan diriku di setiap posisi teman-temanku. Minggu demi minggu berlalu tapi aku tidak dapat menemukan jalan keluarnya.

Aku ingin membuat rasa itu tertidur kembali, namun aku tidak menemukan caranya. Sampai suatu saat, aku bercerita kepada Will, teman satu kampusku saat itu. Will berkata kepadaku, “Sebagai manusia, kita pasti akan merasakan semua rasa yang ada di dunia ini tidak peduli seberapa tinggi atau rendah intensitasnya. Kita tidak dapat mengusir dan menghindari rasa itu, tapi yang dapat kita lakukan hanyalah menerima dan menikmatinya.” Lantas aku bertanya kembali, “Bagaimana rasa yang negatif itu dapat dinikmati?” Ia hanya berkata, “Semua hal butuh proses dan proses butuh waktu, tidak semua orang punya waktu saat ini. Tapi jika kamu punya waktu, maka tanpa kamu sadari kamu akan menerima rasa itu secara perlahan. Terkadang rasa sakit akan ikut bersama proses itu, tapi terimalah. Yang penting bagaimana kita menyikapinya setelah rasa sakit itu melanda kita. Hanya itu yang berada dalam kuasa kita.” Sambil tersenyum, dia pun berlalu.

Mungkin ini bukan suatu hal yang baru bagi aku atau kalian, tapi tanpa kusadari rasa sepi ini tinggal dalam diriku dan merupakan bagian dari diriku. Kalau saja aku mengikuti suara-suara itu, maka aku akan tenggelam lebih dalam lagi di lautan kekecewaan dimana aku tidak akan dapat kembali menggapai daratan.

Audrey Hepburn was a British actress and humanitarian. Recognised as a film and fashion icon, Hepburn was active during Hollywood's Golden Age. (1).png

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s