Twenty Something: Kamu adalah Kamu

“Dia adalah dia, kamu adalah kamu. Bersyukurlah kamu adalah kamu karena banyak dia yang ingin menjadi kamu.” – AWD

Pagi itu, aku berdiri di teras rumahku menikmati angin yang membelai lembut tubuhku. Matahari tersipu malu bersembunyi di balik awan yang cukup tebal. Aku membentangkan tanganku, menutup mata, dan menghirup udara yang cukup segar. Sejenak, kupikir hidupku sempurna. Aku bersyukur atas apa yang telah kudapatkan selama ini. Namun, ada suara yang berbisik kepadaku, “Kamu puas?” Continue reading “Twenty Something: Kamu adalah Kamu”

Twenty Something: Hampa

Hai, namaku Nick. Aku seorang kutu buku berkacamata dengan gaya berpakaian cukup trendy. Aku bukan seorang yang percaya diri, bukan seorang pemberani, bukan seorang yang tampan, dan bukan seorang yang jenius. Aku menyadari ternyata aku bukan siapa-siapa dan aku pun tidak punya siapa-siapa.

Kalau boleh dikatakan, hidupku sangat hampa. Rasa sepi ini terkadang bangun dari tidurnya dan mulai menggangguku dengan bisikan-bisikannya. Ia selalu meracuniku dengan kalimat-kalimat yang membuatku mempertanyakan kemana semua orang yang menyayangiku, kemana mereka saat kuperlukan?

Continue reading “Twenty Something: Hampa”

Twenty Something: Seorang Teman

Tahun itu merupakan tahun yang sangat kelam dalam hidupku. Aku duduk di bangku kuliah di salah satu universitas swasta. Aku tidak punya teman, aku selalu merasa terkucilkan dari semua teman kuliahku. Walaupun sebenarnya, mereka menerimaku sebagai teman mereka. Namun, perasaan ini tetap tidak dapat kulenyapkan dari benakku, aku…aku selalu bingung harus berkata apa.

Continue reading “Twenty Something: Seorang Teman”

Twenty Something: Fading Dreams (English Version)

Twenty years old wasn’t the time that life showered me with its beauty but when life opened my eyes to the cold reality of this world. Time to have fun is disappearing as if it was swallowed by the life challenges; endless just like waves on the shore.

Continue reading “Twenty Something: Fading Dreams (English Version)”

Twenty Something: Mimpi Yang Semakin Pudar

Dua puluh tahun bukan saat hidup memanjakanku dengan segala pesonanya tetapi saat hidup membuka mataku terhadap realita dunia yang dingin. Waktu bersenang-senang seakan lenyap ditelan tantangan hidup yang tiada habisnya bak ombak di tepi pantai.

Continue reading “Twenty Something: Mimpi Yang Semakin Pudar”